• Home
  • About

Dryxanne’s Confessions

“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing. One cannot help but be in awe when he contemplates the mysteries of eternity, of life, of the marvelous structure of reality. It is enough if one tries merely to comprehend a little of this mystery every day. Never lose a holy curiosity.” (Albert Einstein)

Feed on
Posts
comments

Bergantung pada Seutas Benang Tipis Bernama Harapan

November 30, 2006 by dryxanne

-Apa yg kaulakukan?
-Aku bergelantungan.
-Bergelantungan?
-Ya.
-Bergelantungan pada apa?
-Seutas benang tipis.
-Apakah itu kuat utk menahanmu?
-Kuharap begitu.
-Benang apa itu?
-Harapan.
-Itu menggelikan.
-Kenapa menggelikan?
-Karena kau bergantung pada Harapan, dan kau BERHARAP itu kuat menahanmu. Tidakkah kau merasa ada yg ironis dalam pernyataan itu?
-Apa yg tidak ironis dalam hidup? Semuanya ironis. Kau lahir dan pada saat yg sama ibumu bisa mati karena melahirkanmu. Kau mendapat pekerjaan hebat dan di saat yg sama mungkin seorang manusia lain bunuh diri karena kehilangan pekerjaan. Kau jatuh cinta tp di detik yg sama, ada org yg meratapi luka hati ditinggal kekasih. Apa yg tidak ironis?
-Itu bukan ironi. Itu kenyataan hidup.
-Ya, kau benar, itu kenyataan hidup. Kau selalu benar.
-Aku tidak selalu benar, aku hanya mencoba menyampaikan padamu sisi lain dari apapun yg kau lihat. Karena selalu ada sisi lain dlm setiap hal. Hidup itu seperti uang logam, selalu ada sisi satunya yg bila tidak kau lihat dan analisa, kau tidak akan tahu seperti apa bentuk keseluruhan uang logam itu.
-Kau benar. Tp bukan itu topik awal kita.
-Ya, kali ini kau yg benar. Topik awal kita adalah aku bertanya kepadamu apa yg kau lakukan.
-Ya, dan aku sudah menjawabnya. Aku bergelantungan pada seutas benang tipis bernama Harapan.

.

Oh Pandora…
Apakah itu kutukan ataukah berkah ketika isi kotakmu yg terakhir terlepas? Apakah itu memberikan penghiburan pada manusia yg penuh penderitaan? Apakah Harapan adalah penghiburan, ataukah itu hanya solusi sesaat yg tidaklah menyelesaikan masalah?

.

Karena, pada akhirnya, Harapan hanyalah Harapan. Ia bukan jalan keluar, bukan pula obat ajaib yg akan mengakhiri segala penderitaan. Ia hanyalah Harapan, yg terkadang menahan manusia utk bertahan, utk pada akhirnya menemukan bahwa ia tidak akan pernah mendapat apa yg diinginkan.

Oh Pandora…
Untuk apa kau lepaskan Harapan? Apakah itu membantuku saat ini utk bertahan?

…

-Mengapa kau begitu pesimis? KUkira Harapan adalah benang yg cukup kuat.Mungkin kau harus memintalnya lebih kuat dengan sejenis benang lain.
-Benang apa itu?
-Benang Kepercayaan.
-Dimana bisa kutemukan benang Kepercayaan?
-Benang Kepercayaan tidak bisa kau cari dimanapun. Kau akan mendapat seutas ujungnya pada saat yg tidak kau duga sama sekali. Dan sekali kau mendapatnya, kau harus merawatnya baik2. Tidak ada buku petunjuk sama sekali, setiap benang Kepercayaan utk tiap org adalah berbeda cara merawat dan pertumbuhannya. Benang Kepercayaan seperti bayi manusia, ia akan tumbuh menjadi orang dgn karakter tertentu tergantung lingkungan tempat ia dirawat.
-Aku tidak tahu apakah ada benih benang Kepercayaan dalam diriku. Mungkin ada, tapi mungkin juga sudah habis terbakar.
-Kau harus optimis. Mungkin kau tidak sadar itu ada dalam dirimu, kau harus melihat kedalam dirimu lebih jauh dan lebih teliti.
-Melihat kedalam diriku lebih jauh dan lebih teliti?
-Ya, sehingga kau tahu potensi dirimu, kau tahu persis dirimu sendiri, kau tahu kemampuanmu, dan kau tahu batas daya tahan dirimu.
-Untuk apa aku harus begitu? Aku kan hanya bergantung pada Harapan.
-Kau harus begitu,supaya kau tahu sekuat apa dirimu, dan kau harus mampu mengukur, sejauh apa kau bertahan, meskipun benang tempatmu bergantung belum kuat utk menahan dirimu terlalu lama. Kau harus MENGENAL DIRIMU SENDIRI…

.

Mengenal diriku sendiri…
Begitu gampangkah?
Aku bahkan tidak ingat apa ingatan pertamaku, kalau itu bisa dikatakan titik tolak awal kesadaranku. Sejak saat ingatan pertama itu, mungkin sudah 24 tahun berlalu. Dan aku masih berkutat dalam kolam "pengenalan diri". Entah kapan aku keluar dari kolam itu dan "melihat" pribadi diriku tercermin di permukaan tenang kolam itu, dan saat itu aku bisa mengatakan : Ya, aku tahu diriku, itulah diriku, kau bisa melihatku seperti bayangan di permukaan kolam itu, dan kolam itu kini telah tenang dan tidak lagi beriak.

.

Aku terlalu jauh melantur.

.

-Tidak, kau tidak melantur. Kau hanya dalam tahap kebingungan. Kau bingung, karena hal2 yg terjadi dalam hidupmu sekarang tidak masuk akal, dan kau kehilangan pegangan.
-Begitukah?
-Tentu saja. Itulah sebabnya kau merasa ragu, itulah sebabnya kau ragu pada dirimu sendiri, itulah sebabnya kau beralih pada benang Harapan, tapi keraguanmu begitu besarnya sehingga kau bahkan tidak melihat benang Harapan ini cukup kuat utkmu bergantung menuju impianmu.
-Mungkin begitu…entahlah. Aku lelah dgn pembicaraan ini. Bisakah kita meneruskan lain kali?
-Tentu saja, aku selalu ada untukmu. Aku selalu bisa kau cari utk berbicara.
-Benarkah? Tapi aku tidak kenal kau. Bagaimana aku bisa menemukanmu kembali?
-Tiap kali kau ingin bicara padaku, kau hanya perlu menenangkan pikiranmu, buang amarah dan semua emosi, dan saat itu aku akan muncul didepanmu.
-Begitu gampang?
-Itu tidak gampang. Tidak banyak org yg bisa berbicara denganku, atau jenisku.
-Siapa dirimu sebenarnya? Kau peri? atau Malaikat? atau…
-Aku? Bukan, bukan Malaikat, apalagi Peri atau bahkan Hantu. Aku hanyalah Hati Nurani mu.
-Hati Nurani?
-Ya, kau tahu, Hati Nurani. Aku adalah berkah terbaik yg kau miliki dari lahirmu, dan aku diberikan  gratis utkmu oleh DIA, sebagai bekalmu utk hidupmu.
-Aku mengerti sekarang. Kalau begitu, bisakah kita akhiri pembicaraan ini?
-Tentu saja.

.

Tentu saja…
Tentu saja aku tahu, benang Harapan saja tidak cukup kuat, aku harus memintalnya lebih kuat dengan Kepercayaan.
Kemana aku mencari Kepercayaan?
Aku pernah punya Kepercayaan, terhadap Tuhan, terhadap teman, terhadap sahabat, keluarga, kekasih.
Sekarang?
Aku punya Kepercayaan terhadap Tuhan, dan keluarga. Terhadap sahabat dan teman, kurasa hanya beberapa diantara mereka yg layak mendapatnya.
Bagaimana dengan kekasih?
oh…
Oh Pandora…
Pandora lambang segala ironi…

.
Apakah aku punya kekasih?
Apa definisimu mengenai seorang kekasih?
Aku tak tahu apa definisi seorang kekasih, karena konsep pikiran dan pengetahuanku telah dikacaukan sedemikian hebat, apa yg dahulu kupercaya ternyata kebohongan belaka, dan apa yg dahulu kupikir kebohongan, ternyata adalah kejujuran yg menyakitkan.

.

Demikian juga definisi kekasih. Kalau kau tanya padaku,apakah seorang kekasih adalah teman berbagi, mungkin iya mungkin tidak.
Apakah seorang kekasih adalah teman dalam suka dan duka, mungkin iya mungkin tidak.
Apakah seorang kekasih adalah tempatmu berpaling, org yg paling kau percaya akan mengerti dirimu, tak pernah menghakimimu, tak akan pernah menyakitimu dengan sengaja, tak akan pernah melukaimu dengan sengaja, mungkin iya mungkin tidak.
Karena kenyataannya, aku telah pernah mempercayai definisi kekasih seperti itu, dan aku dihempaskan ke tanah dgn kehancuran mutlak dan kepercayaan baru bahwa aku tak akan pernah percaya lagi.

.

Ironis bukan?
Aku bergantung pada Harapan, dan BERHARAP bahwa HARAPAN itu kuat menahanku.
Aku pikir aku PERCAYA, bahwa aku TAK AKAN PERNAH PERCAYA LAGI.
Itu bukan ironis, mungkin, itu menyedihkan.
Pandora mungkin akan menangis melihatku, karena aku rasa, Harapan tidak dilepas utk disia2kan seperti ini.
Tapi kau tahu tidak,Pandora?
Kau mungkin hanyalah mitos.
Kau mungkin tak pernah ada.
Dan kalau kau tak pernah ada, demikian juga dengan kotakmu, dan isinya.
Dengan demikian, Harapan pun tak pernah ada.
Itu hanya kebohongan agar manusia tidak putus asa.
Ya, kebohongan yg ditanamkan kedalam otak manusia ribuan tahun, agar manusia tidak berhenti berusaha, meskipun pd akhirnya mereka mendapatkan, Harapan yg mereka pegang kosong belaka berisi pesan : Anda belum beruntung, coba beli Harapan baru dan lihat isinya.

…

Nothing matters anymore.
I’m just fooling with myself.
I wish I could fly away.
Out of this room, out of this city,
Out of this life.
I’m fooling myself, thus letting others to fool me.
I’m just another fool.
Nothing really matters anymore.
No words, no acts, no nothing.
In the end, it wouldn’t matter at all.
Because I’m just holding to an empty Hope.
I built it strong outside, but I forgot,
I left it empty inside.
Nothing matters, anymore.
Nothing’s gonna last, anyway.
And eventually, what am I holding to?
And eventually, what am I wishing for?
And eventually, what am I waiting for?

I’m waiting for destruction.
A destruction I molded for myself.
A self-destruction.
Because I was a fool to let myself,
hanging high on a breakable thread.
A thin breakable thread called HOPE.

Nothing really matters.
I wish I could just go away,
and disappear…

.

Posted in Mumbles | No Comments



Comments are closed.

  •  

    November 2006
    M T W T F S S
    « Oct   Dec »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Archives

    • June 2008
    • May 2008
    • April 2008
    • March 2008
    • February 2008
    • January 2008
    • December 2007
    • November 2007
    • October 2007
    • September 2007
    • August 2007
    • July 2007
    • June 2007
    • May 2007
    • April 2007
    • March 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • November 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • May 2006
    • April 2006
  • Recent Comments

    • vuddyAccurn on When Can I See It Again?
    • Utitiovatte on When Can I See It Again?
    • Utitiovatte on When Can I See It Again?
    • cheavaMaf on When Can I See It Again?
    • rinkostfx on When Can I See It Again?
  • Blogroll

    • Friendster Blogs

Theme: MistyLook by Sadish.