Perjalanan Terheboh Dgn Taksi
January 29, 2007 by dryxanne
Kali ini aku akan menulis dengan bahasa Indonesia. Yep, bahasa Indonesia yg kita cintai ini, karena topiknya memang tentang Jakarta (lagi lagi…) dan orang Indonesia.
Dan tentu saja, seperti biasa, isi blog ini pasti mengandung keluhan yg menjadi ciri khas isi blogku dari dulu. Oh please deh…kalian yg belum mengenalku, aku ini tukang mengeluh dan tukang complain..!! Coba saja tanya teman2 terdekatku (krn seingatku aku selalu tampil "pemalu" dan tanpa keluhan didepan org2 yg baru kukenal hehehe…), pasti mereka akan mengiyakan. Dan tentu saja mengandung perbandingan karena biasanya complain didasarkan pada ketidakpuasan atas hal tertentu setelah dibandingkan dengan sesuatu.
Oke deh, dimulai.
Jadi tadi pagi, seperti biasa, aku bangun, dan tetap saja telat berangkat, karena aku memang lamban. Dan seperti biasa pula, kalau telat, aku naik taksi. Kebetulan akhir2 ini salah satu merek taksi yg cukup bagus dan masih memakai tarif lama sudah jarang terlihat di area tempat tinggalku, dgn demikian jadilah aku berlagak org kaya dng menyetop satu taksi yg dipercaya adalah yg terbagus pelayanannya di Jakarta ini.
Pada saat naik, kesannya cukup bagus, krn si supir mengucapkan salam. FYI, supir2 dari merek ini memang rata2 ramah dan sopan, dan hampir semuanya selalu mengucapkan salam pada penumpang saat baru naik. Dari pembicaraanku suatu waktu lalu dng salah satu supirnya, mereka memang di latih utk bersikap ramah dan mengucapkan salam saat menjalani pelatihan orientasi di awal karir mereka. Setelahnya, jalanlah itu taksi. Belum jauh, sudah bertemu macet parah yg lumrah terjadi di dekat daerah tempat tinggalku. Kupikir, setidaknya ini taksi bagus, tentulah supirnya tidak akan mengomel ataupun keberatan, walaupun didalam hati mungkin kesal berat. Ternyata, si supir satu ini tidak sabar dengan kemacetan parah itu. Dia memang tidak mengomel dng penuh kemarahan, tapi tetap saja dia mengomeli semua yg bisa diomelin. Dari ruas jalan yg mau dibangun fly over tapi tak kunjung selesai, metromini yg sudah dikasih jalan tapi tetap lelet yg menghalangi jalannya taksi, sampai Pak Polisi yg kukuh tidak mengijinkan jalur busway dipakai walaupun kemacetannya sudah sangat parah.
Dan lebih parahnya, setiap kurang dari semenit, bahkan mungkin hanya 30 detik, si supir ini pasti membunyikan klakson, yg menurutku kadang2 sebenarnya tidak perlu. Memusingkan kan mendengar bunyi klakson melulu??
Mungkin teman2 yg bisa menyetir mobil (kebetulan aku tidak bisa) bisa memahami kekesalan hati si supir. Mungkin juga si Pak Supir lagi capek, lagi tidak enak moodnya, atau apalah. Tapi aku kan penumpang yg tidak bayar murah utk perjalanan yg cukup jauh itu, dan aku kan mengharapkan kenyamanan dan ketenangan makanya aku memilih merek tersebut, ya kan? Tapi nyatanya yg aku dapat adalah ketidaknyamanan dengan sikap si Pak Supir itu, terutama bunyi klaksonnya yg sebentar2 pasti menjerit : Teeet teeet…
Pusiiiingggg…
Hal seperti ini membuatku berpikir dan teringat komentar seorang teman kantorku yg pernah kutebengi pulang. Dia bilang, dia tidak habis mengerti, mengapa org2 di negara lain, terutama negara maju, bisa punya etika berkendara yg jauh lebih baik? Apakah ada suatu sistem yg ditanamkan dengan ketat sekali sehingga begitu tertanam dlm otak2 mereka sebagai pemakai jalan, sehingga mereka rata2 punya etika yg baik sekali? Apa yg harus dilakukan atau diterapkan terhadap para pemakai jalan di Indonesia supaya memiliki tingkat etika memakai jalan yg sama?
FYI, tidak usah jauh2, di Malaysia saja, aku pernah naik taksi sore2, dan kondisi jalan kalau memakai istilah laporan lalulintas adalah "ramai lancar". Oleh si supir taksi Malaysia, itu dikategorikan sebagai "jam" atau "Macet", dan dia hampir2 tidak percaya ketika kubilang kondisi itu di Jakarta adalah hampir2 normal tiap hari terjadi. Tapi yg sangat membuatku salut, TIDAK SATUPUN dari mobil2 itu mengklakson kendaraan lain.
TIDAK SATUPUN.
Ketika kutanyakan kenapa, si Supir Malaysia menjawab, karena bunyi klakson itu berisik dan tidak sopan. Beliau bilang, mereka disana tidak akan membunyikan klakson kalau tidak benar2 perlu atau bukan keadaan darurat. Singkatnya, mereka tetap menahan diri. Beberapa kali aku melintasi jalan2 yg cukup macet, tapi tidak satupun kendaraan yg terdengar membunyikan klakson atau terburu2 menyalip kendaraan lain. Kalau memang memungkinkan utk mendahului dng mulus ya mereka akan melakukan, tp tidak dng cara ugal2an.
Mungkin ada daerah lain di Malaysia (atau di Singapore) yg tidak demikian. Tapi setidaknya itu menunjukkan kondisi (dan juga etika) pemakaian jalan yg jauh lebih baik dibandingkan Jakarta tercinta ini.
Kembali ke si pak supir pertama tadi.
Tampaknya si pak supir tidak merasa kalau kelakuannya bikin aku tidak nyaman. Tampaknya juga dia tidak merasa kalau dia menyupiri merek taksi yg punya reputasi sangat baik. Tapi merek memang tidak menentukan. Aku pernah bertemu supir merek taksi lain yg ramah sekali, dan sabar sekali meskipun kondisi jalan memang bikin aku ingin meledakkan dinamit biar kosong. Nah supir seperti itu kan bikin hati tentram, kita sebagai penumpang juga nyaman, dan akhirnya rela memberi sedikit lebih dari argo sebagai sekedar tips dan rasa terima kasih telah diantarkan dengan selamat dan aman sampai tujuan.
Supir tadi pagi tidak kuberi uang lebih. Aku membayar cuma bbrp ratus rupiah lebih dari argo yg tertera. Karena memang aku tidak puas dengan pelayanannya. Apalagi dia sempat menyetir dengan kecepatan agak tinggi, tipikal reaksi yg normal setelah lepas dari kemacetan parah dan menemui jalan yg lebih lengang.
Sejak mendengar cerita temanku bbrp waktu lalu mengenai mobil temannya yg tiba2 ban mobilnya pecah pada saat dlm kecepatan tinggi dan hasilnya istri si temannya itu menjadi buta sebelah akibat kaca pecah, aku menjadi ngeri dengan kecepatan tinggi. Ingin rasanya kuingatkan si pak Supir (dan pak Supir lain dari merek yg sama yg kunaiki bbrp malam lalu yg juga mengebut krn jalan lurus kosong dan sudah malam), aku lebih memilih biar lambat asal selamat…Tp memang bodohnya aku memilih diam saja. Kuatir reaksinya tidak menyenangkan.
Dan, ini kejadian tambahan, selain menghabiskan 40 menit karena macet utk jarak yg dekat sekali (coba bayangkan jarak dari Jembatan Susilo ke perempatan Taman Anggrek), di tengah jalan juga ada 2 kali kecelakaan kecil. Yg pertama ada motor yg jatuh persis didepan taksi karena menabrak kerucut pembatas lajur, dan otomatis si supir mengerem kencang dan aku sedikit terjerembab ke depan. Yg kedua, setelah terlompat dari kursi karena taksinya baru saja melintasi lubang jalan yg agak dalam, dibelakang taksi satu motor lagi jatuh krn lubang yg sama.
Menggelikan bukan? Tidak ya? Ya sudahlah kalau kalian tidak merasa ada yg lucu di kejadian2 tersebut…
Pokoknya itu adalah perjalanan teraneh dan terheboh dengan taksi yg pernah kualami sejauh ini.