Blood Diamond
February 7, 2007 by dryxanne
Pas lg ngungsi banjir, sempet2nya aku dan teman2 kosku yg sepengungsian maen k Senayan City, dan jadilah kita nonton 21. Filmnya "Blood Diamond", dibintangi Leonardo DiCaprio dan satu org lg yg tak kunjung kuinget namanya, Jimon Honsu ato apalah yg bunyinya kaya gitu yg maen di "Eragon" jg, dan satu cewek lagi yg rasanya klo ga salah Jennifer Connelly.
Filmnya bercerita ttg konflik di Sierra Leone, negara kecil di Afrika tapi kaya dgn intan. Diceritakan, konflik antara pemerintah dan sekelompok "Pemberontak" menyebabkan pertumpahan darah dimana2, anak2 kecil dilatih jadi tentara dan menembaki org2 setanah air juga, penambangan intan di sungai2 yg hasilnya melimpah ruah tp pengeksporannya secara selundupan, dan bagaimana salah satu pemasar/pemasok berlian terbesar di dunia justru memasok berlian2nya dari Sierra Leone dimana berlian2 itu menjadi pemicu konflik disana, padahal dimata dunia, si pemasok itu turut memelopori utk mengakhiri pemasaran "conflict diamonds" yakni berlian yg diperoleh dari daerah konflik atau daerah yg sedang dlm situasi perang sipil seperti Sierra Leone.
Btw, Sierra Leone itu bener2 nama negara lho, dan itu memang negara yg kaya intan. Aku pernah membaca entah dimana kalo batu2 itu yg belum diolah disebut intan (berlian mentah) dan yg sudah diolah spt yg terpasang di perhiasan2 atau toko2 perhiasan disebut berlian. Bagi mata awam, intan mentah susah dibedakan dari batu2 berkilau biasa atau bahkan kaca, karena selama ini mata awam hanya tahu dan mengenali berlian dari yg terpajang di toko2, dimana batu2 itu sudah melalui berbagai proses spt penggosokan, pemotongan, pengasahan dsb. Tapi jangan salahkan aku klo istilah yg kupakai disini agak campur aduk dan semauku, dimana kdg2 aku memakai istilah berlian dan saat lain intan.
Itulah sebabnya satu2nya hal janggal yg menarik perhatianku adalah, bagaimana para penambang intan di film tersebut yg mendulang disungai begitu bisa tahu dan membedakan dengan pasti mana batu biasa dan mana batu intan, padahal mereka toh cuma diciduk dari desa2 yg diserang para pemberontak, mungkin mereka seumur hidup tidak pernah melihat batu intan sebelumnya. Atau intan sudah begitu umumnya di Sierra Leone sehingga umumnya masyarakat disana bisa langsung membedakannya dari batu biasa? Lalu juga saat si Solomon Vandy (nah, barusan aku Googling dan dapetlah namanya ternyata Djimon Hounsou) mendapatkan Pink Diamond yg jd inti cerita nih film, lha gimana sih dia tuh bisa tau itu adalah berlian langka selain dari ukurannya itu memang extraordinary? Lha warna pinknya aja samar2 ga jelas kok.
Tp film ini ok banget utk ditonton. Menyentuh hati walaupun aku tidak sampai meneteskan airmata, tp cukup mengharukan, apalagi kisah si Solomon Vandy yg berusaha mati2an menyatukan keluarganya yg tercerai berai akibat konflik sipil itu. Dan juga si Danny Archer (Leo DiCaprio) yg ternyata tidak sejahat yg dikira.
Satu hal patut dipuji adalah, kualitas akting Leonardo DiCaprio yg benar2 ok. Kebetulan weekend sebelumnya aku baru nonton Titanic di TransTV, dan boleh dibilang, akting si Leo di Titanic itu benar2 kelas rendah, walaupun film Titanic itu jadi box office. Aku masih ingat, pas Titanic release, guru les Inggrisku berkomentar, akting Leo di film itu biasa saja dan bahkan "jatuh" kalau dibandingkan dng film Leo sebelumnya, apalagi "What’s Eating Gilbert Grape?". Aku sih memang pernah liat film "What’s…" itu tp tidak sampai selesai, dan memang sih, akting Leo di "What’s…" itu jauh lebih bagus dari di "Titanic" padahal saat itu umur Leo masih muda sekali lho…
Nah di Blood Diamonds ini, boleh dibilang kemampuan asli Leo muncul dan digarap habis2an, termasuk aksen bicaranya yg "aneh" dikuping. Kupikir mungkin itu dikarenakan karakter si Danny Archer yg diceritakan dari Afrika Selatan dan pindah ke Zimbabwe. Tapi jelas bkn aksen asli Leo krn di Titanic aksennya beda lagi. Bahkan di The Departed juga beda lagi. Akting si Djimon Hounsou juga oke, terutama ekspresi tegangnya pas dia menyadari menemukan berlian besar itu dan ketakutannya ketika kepergok komandan penjaganya. Juga kemarahannya ketika di penjara.
Sudahlah, klo kuteruskan, nanti jadi spoiler…hehehe…
Lebih baik ditonton sendiri saja, dijamin kalian akan bilang ini film bagus. Cuma ada warning, bagi yg tidak suka adegan kekerasan terutama tembak menembak dan adegan perang yg heboh dan sadis, mending tidak nonton daripada nanti menjerit2 (terutama perempuan). Karena di film ini, scene2 perang sipil di eksploitasi dng porsi banyak.
Aku sendiri mungkin akan nonton sekali lagi, krn banyak adegan terlewat olehku gara2 harus membalas SMS. Bayangkan, ditengah2 kehebohan adegan perang dan kebingungan Solomon Vandy memikirkan bagaimana cara mengevakuasi keluarganya keluar dari Sierra Leone, aku juga sibuk memikirkan bagaimana status tempat menginapku dan status mengungsiku….
Banjir sialan…