(Menguping) Pembicaraan di Atas Bis
March 9, 2007 by dryxanne
Suatu malam di atas Bis AC P11 jurusan Grogol - Pulogadung…
"Bapakku katanya baru tenang kalau aku sudah menikah…" (perempuan)
"Oh ya?" (lelaki)
"Yah begitulah orang tua kan.." (perempuan)
"Hm ya memang…" (lelaki)
*****
Suatu malam beberapa bulan yg lalu…
"Sekarang paling baik kalau kamu dapat pacar kemudian menikah…"
"Kenapa Ma?"
"Ya kalau kamu sudah menikah kan Mama tenang, jadi ada yg menjaga kamu, perempuan itu kan butuh pendamping, ibarat kapal, tidak bisa selamanya berlayar, suatu saat harus berlabuh di satu tempat…"
*****
Pertanyaan : Haruskah…???
Bagaimana kalau :
1. Karena hanya ingin menyenangkan orangtua, lantas cepat2 menikah karena merasa cukup cocok, lalu ternyata akhirnya cerai krn pertengkaran yg tidak habis2?
2. Karena menikah tanpa cinta, lalu salah satu atau keduanya berselingkuh, berujung pada dosa?
3. Karena tidak tahan mendengar omongan di masyarakat, tudingan "tidak beres" lantas memutuskan menikah lantas menghancurkan hidup sendiri?
Mengapa :
1. Mengapa menikah seolah dijadikan suatu status kehormatan, seolah kalau org yg menikah lantas dianggap normal, dan org yg tidak atau belum menikah dipandang kurang lengkap hidupnya?
2. Mengapa kalau ada perempuan yg berpendidikan/berpenghasilan tinggi lantas susah mencari pasangan hidup? Atau sering mendpt pandangan negatif, bahwa perempuan itu sudah terlalu mandiri, lantas dianggap merasa tidak butuh lelaki?
3. Mengapa perempuan masih sering ditempatkan di level lebih rendah dari lelaki, sehingga perempuan harus menyusahkan diri berjuang mendapatkan kehormatan dan respek dari kaum lelaki, hanya utk kemudian dicap feminis atau sok emansipasi?
4. Seorang perempuan dianggap tidak bisa menjaga diri sendiri lantas HARUS ADA seorang suami utk menjaga dia?
5. Mengapa perempuan tidak boleh berkeinginan mempunyai pasangan atas dasar mutualisme, kebutuhan berbagi, dan cintakasih, melainkan harus mengikuti dasar "kenormalan" menurut pandangan masyarakat?
Saya percaya, Tuhan tidak menciptakan perempuan utk direndahkan dalam hal dan cara apapun. Perempuan diciptakan utk menjadi penolong yg sepadan bagi laki2, utk menjadi teman hidup. Patutkah meletakkan seorang penolong dan seorang teman, ke dalam posisi yg lebih rendah daripada yg selayaknya ia dapatkan?
Apakah salah, kalau seorang perempuan berkeinginan mendapatkan teman hidup seorang lelaki yg mampu menghargai nilai dan keberadaan diri si perempuan sebagai seorang manusia yg punya harkat dan martabat, sehingga si perempuan memutuskan menunda (atau bahkan tidak berniat) untuk menikah sampai mendapatkan lelaki seperti itu?
Bukankah tiap manusia terlahir bebas dengan keinginan bebas yg diberikan Tuhan sebagai hadiah tak ternilai dari-NYA?
Jawaban: Harus banget.
Pembicaraan hasil kupingan kamu emang benar semua. Pada akhirnya nasib mereka lebih beruntung daripada yg tidak married ataupun yang menunda. Pembicaraan diatas ga ada yg suruh anak cenya asal nikah kan? Jadi jgn asumsi harus cepat nikah sampe sembarang cari pasangan.. itu mah namanya salah sendiri; jgn salahkan ortu.
Kesan mandiri atau tidak butuh pasangan hidup sih emang ideal kedengarannya, tapi kalau udah masuk usia lanjut, sisi jeleknya keluar yaitu kesepian.
Ada satu yang si Mama kupingan kamu itu lupa memberitahu putrinya, yaitu kalau diatas kapal tidak bisa ada dua kapten.
Mengapa kalau ada perempuan yg berpendidikan/berpenghasilan tinggi lantas susah mencari pasangan hidup? Banyak menuntut yang sebenarnya tak perlu dituntut. Perempuan2 jenis ini biasanya akan berakhir dengan kesepian. Kalau dibandingkan dengan perempuan2 kupingan kamu, lebih bernasib baik siapa pada akhirnya?
Apa sehingga seseorang disebut lebih beruntung??
See when each turn…
Orang menikah juga belum berarti mereka tidak kesepian…
Benar kalau kapal tidak bisa ada 2 kapten (saat menjalankan). Tapi kapal pasti bukan cuman punya 1 kapten.Mereka gantian kan??
Nasib baik, apa ukurannya??
Wanita menikah belum tentu tidak kesepian, sama halnya dengan pria, tak heran ada perselingkuhan (TTM buat yang menikah).
Benar kalau perempuan berpendidikan/berpenghasilan tinggi banyak menuntut. Mengapa? setidaknya mereka telah membantu meringankan beban pasangannya.At least tuntutan finance buat diri si wanita mandiri. So nga ada salahnya juga bila wanita mandiri juga menuntut hal lain sebagai gantinya… mungkin dalam hal ini pria yang terlalu angkuh atau terlalu tinggi untuk berbuat sesuatu untuk wanita…
Wanita sebagai pasangan bukanlah lebih rendah. Mereka sepadan… (Ever know article about mengapa wanita adalah rusuk bukan sebagai kepala, tangan, bahkan kaki atau lain sebagainya)
Menikah lah dengan orang yang bisa menjadikan kita sepadan, mau bergandeng tangan (bukan jalan didepan or belakang ya… :))bersama, berbagi hadapi jalan didepan sampai akhir….(Hati; komitmen; percaya; setia + cinta,is a must)
Yang berharga pantas dibayar mahal….
Tadi g dikomentarin, soal kapten.
Let me revise it. Kapten cuman 1 tapi waktu kapten istirahat, ada anak buah yang bantu liatin… one commander, tapi byk supporter alias asisten..,
Bener ga pal???