Just Mumbling
October 3, 2007 by dryxanne
Jadi, mungkin kemarin pagi akhirnya aku disadarkan lagi, bahwa naik bis seperti masyarakat pekerja pada umumnya, memang merupakan hal yg cukup memberikan kesempatan utk refleksi diri. Bukan, bukan karena ada tukang pijat refleksi yg mangkal di atas bis, please deh…
Maksudku, walaupun naik taksi memang nyaman dan menyenangkan, dan bisa bikin kecanduan kalau saja isi kantong tidak terkuras karenanya, tapi naik taksi itu tidak memberikan kesempatan yg cukup utk merenung. Merenung melihat keseharian hidup di sekitar kita.
Naik taksi membuat perjalanan ke kantor jd cepat dan nyaman. Tapi pada saat yg bersamaan, menimbulkan perasaan bersalah, saat melihat org2 lainnya bersesak2 di atas bis yg padat, atau melihat org2 pejalan kaki yg melintas dng keringat bercucuran. Mengingatkan diri bahwa aku punya uang yg cukup bahkan berlebih yg bisa digunakan naik taksi, tapi menyumbang pada sesama bukanlah ide yg menarik. Jadi tadi malam menyumbanglah aku pada seorang nenek2 yg "mangkal" diatas jembatan penyebrangan Karet Sudirman.
Tapi tentu saja, ini bukan tulisan ttg kesadaran diri utk akhirnya menyumbang.
Yg mau kutulis sebenarnya adalah, betapa kesempatan naik bis itu memberikan waktu yg cukup utk aku mengamati lingkungan. Sekian menit (kadang2 hampir 30 menit, dan itu menjengkelkan) yg kuhabiskan menunggu bis datang ke halte, merupakan menit2 yg kuhabiskan dng mengamati org2 yg mampir dan pergi dari halte itu.
Misalnya, betapa aku "mengagumi" ibu2 yg membawa anak2 balita dng kain selendang, mengejar dan naik ke bis 213 yg non AC dan selalu penuh sesak itu, yg bahkan utk berdiri pun harus dekat dng pintu masuk. Bahaya? Jelas. Makanya aku "mengagumi". Entah dng alasan apa ibu2 itu membawa anak2 mereka menempuh petualangan spt itu. Dan tentu saja aku ga bisa menghakimi mereka, krn tentu jawabnya adalah : kalo kami punya uang lebih utk naik taksi, kami ga akan naik 213…
Tapi bagiku, tetap saja terselip tanya, kenapa anaknya tidak ditinggal, titip ke siapa gitu? Atau kenapa tidak menunggu bis2 berikutnya yg lebih kosong, spy lebih aman? Mungkin selisih sekian menit itu terasa sangat berharga, sehingga bahaya spt itu pun terlupakan. Dan kalau terjadi hal2 yg tidak diharapkan, lalu kita hanya bisa mengurut dada dan mengiklaskan, dan disaat yg sama mengutuk pemerintah yg sampai sekarang belum berhasil memperbaiki keadaan spt ini.
Lalu ada lagi seorang ibu, yg kemaren kulihat lagi menunggu bis juga. Dia membawa seorang bocah lelaki, paling2 berumur 4-5 tahun. Si bocah memakai pakaian yg tadinya kukira adalah T-shirt kebesaran (belakangan ternyata itu adalah setelan kaos dan celana pendek, tp tetap kebesaran), sampai aku sempat mengutuk si ibu dalam hati, kenapa tidak membelikan pakaian yg lebih pantas, padahal si ibu lumayan rapi, dan memakai 2 cincin emas pula (entah imitasi atau asli), dan si bocah ini tidak memakai sandal sama sekali. Entah memang si bocah yg tidak suka, atau memang si ibu tidak membelikan sandal utk dipakai, atau si ibu tidak memakaikan dng pertimbangan, anak2 sering mengalami kehilangan sandal apalagi sandal jepit, terutama pas digendong, krn anak2 biasanya masih agak susah menjepit sandal jepit sehingga suka terlepas dan jatuh dari kaki pada saat digendong.
Tapi yg bikin agak risih adalah, si anak pipis pada petak hijau kecil yg dipagari disebelah halte tersebut. Petak hijau kecil yg dimaksudkan sebagai jalur hijau mini. Bukan masalah tanaman2 disitu lantas akan mati karena pipisan si kecil, bukan pula soal memang disitu tidak ada toilet umum jd tidak ada pilihan lain. Tapi yg bikin agak bete melihatnya adalah, si ibu terkesan tidak peduli, cuma menoleh sekilas pas si kecil pipis. Jadinya aku mikir dlm hati, ini ibunya atau cuma pengasuh ya? Atau seorang kerabatnya saja? Karena kalo pengasuh, berarti orangtua si anak lumayan berada dong, bisa menggaji pengasuh dng tampilan cukup rapi begitu? Lha tapi kok si anak tampilannya dekil gitu?
Pertanyaan demi pertanyaan melintas, tapi lalu keburu bis yg mereka tunggu datang, lalu si ibu langsung cepat2 menggendong si bocah, dan naik dng gesit ke bis yg penuh sesak itu.
"Mengagumkan".
Tapi tadi pagi aku melihat hal lain yg lebih mengagumkan lagi. Seorang kakek2 berumur mungkin hampir 70 tahun, naik bis AC 16 (yg biasa kutumpangi ke kantor), sendirian. Mungkin karena dia kuatir kelewatan tujuannya, sehingga baru melintasi Semanggi saja dia sudah berdiri dari tempatnya dan maju ke depan, padahal ternyata tujuannya adalah daerah sesudah Pondok Indah. Yg ini benar2 mengagumkan, karena aku sendiri tidak yakin kalau aku sudah berumur segitu, masi bisa atau masi berani naik bis umum sendirian, tanpa tahu jelas tempat tujuanku. Yg menimbulkan pertanyaan juga, kemana sanak saudaranya, sehingga si bapak tua ini mesti bepergian sendiri naik bis umum?
Kurasa cukuplah utk gumaman hari ini.