Sepenggal Cerita
October 24, 2007 by dryxanne
Kemarin, tiba2 aku teringat beberapa cerita yg dulu sekali pernah kubaca di Majalah Bobo. Aku ingat, ketika kecil, struktu isi Bobo adalah, keluarga si Bobo di halaman belakang, lalu Bona dan RongRong, lalu ada beberapa cerita "panjang" yg tidak pernah kubaca sampai aku berumur 8 atau 9 tahun dan cukup lancar membaca karena menurutku cerita2 itu terlalu panjang dan susah utk dieja huruf2nya karena terlalu banyaaaakkk (maklum, anak kecil, 2 halaman saja terasa spt novel, walaupun anehnya aku bisa membaca Lima Sekawan pas kelas 2 SD).
Nah, pada satu saat aku sudah cukup pandai membaca cerita2 panjang itu (mungkin kira2 kelas 2 SD lah). Ada beberapa cerita yg cuma bisa kuingat sepotong2, terutama pd bagian2 yg mengesankan. Judul2nya semua sudah terlupakan, jadi akan kunomori saja. Kalau ada kesalahan detail, mohon maaf…yg penting inti ceritanya begitulah.
****************************************
Cerita 1 :
Tentang seorang anak, sebut saja namanya Bejo. Si Bejo ini anak keluarga miskin, ibunya cuma buruh cuci. Satu saat, dikampung si Bejo, di warung dekat rumah, dijual sejenis cemilan spt emping manis, yg bikin si Bejo ngiler. Tapi krn dia anak miskin, tak mungkin minta uang jajan pd ibunya utk membeli cemilan itu. Jadilah si Bejo cuma nelan iler klo ngliat anak2 laen makan cemilan itu. Meminta pd ibunya pun cuma kecewa saja. Tp suatu hari si ibu tiba2 menjemur kerak nasi sisa makan dan blg ntar itu djadiin cemilan. Si Bejo protes, maunya emping kok. Tp si ibu cuek aja. Akhirnya setelah kerak2 nasi itu kering, oleh si ibu diolah jd sejenis keripik manis dng lapisan gula. Pas nyicipin, trnyata bagi Bejo enak jg. Begitulah, akhirnya si Bejo jg puas dng cemilan kerak nasi itu.
-> Nih cerita asli bikin aku trenyuh bgt. Aku sempat nanya ke ibuku soal mungkinkah kerak nasi diolah spt itu? Mungkin saja, katanya. Dan begitulah, anak miskin harus puas dng cemilan kerak nasi digulain, sementara anak org kaya bisa memuaskan diri dng Pringles atau Pretzels atau Cheerios. Moral ceritanya? mungkin bahwa dari kondisi yg buruk pun ada hal yg masi bagus, dan we should make the best out of what we have.
*********************************************
Cerita 2 :
Ada seorang anak miskin lagi (tampaknya jaman itu Bobo hobi memuat cerita soal anak dr keluarga miskin atau sederhana, tapi justru cerita2 spt itu menurutku lebih bermutu dan lebih nyata, dibanding isi majalah2 anak2 sekarang yg isinya menceritakan hidup para selebriti cilik), sebut saja namanya Koko. Aku sudah lupa awal ceritanya, pokoknya end up ke bagian dimana si Koko ini diajak makan oleh seseorang, orgtua temannya atau apa gitu, ke restoran. Nah si Koko ini baru pertama kalinya makan makanan seenak itu, dan dia melihat kalau banyak makanan yg tersisa, padahal masih relatif bersih tidak di aduk2. Jadi si Koko ini ingin membungkus pulang makanan itu utk ibunya di rumah. Tapi karena malu, pas ditanya utk siapa, dia jawab utk anjing peliharaannya. Lalu dibungkuskanlah makanan2 sisa itu oleh si pelayan. Pas diberikan ke Koko, ternyata makanan2 sisa itu sudah campur aduk tidak karuan. Ketika ditanyakan, si pelayan bilang kan utk peliharaan jadi sekalian makanan2 sisa lainnya di dapur juga ditambahkan, daripada dibuang. Oalaaahhh…si Koko cuma bisa mengurut dada. Si mboknya tidak jadi makan enak malam itu…
-> Yg ini jg bikin gw trenyuh banget. Bayangin, ketika si Koko tahu makanan itu sudah tercampur aduk dengan makanan sisa lainnya. Dan betapa si Koko harus berbohong soal utk siapa makanan2 itu. Moral ceritanya mungkin seharusnya si Koko jujur saja ya?
********************************************************