Menguping Pembicaraan di Kantin
November 30, 2007 by dryxanne
Mungkin aku ini memang tukang menguping ya?
Yah memang kebiasaan buruk…Tapi ini bukan menguping lho…Sengaja saja kutulis menguping biar terdengar lebih menarik dan lebih juicy untuk ngerumpi…yuuukkkkk…
Anyway…
Jadi, ini bukan menguping, tapi kebetulan terdengar olehku, lha wong pembicaranya cuma berjarak kurang dr 50cm dariku. Kutipannya kurang lebih sebagai berikut :
"Gila ya tuh orang…masa dia tinggal di rumah, ga kerja, jaga anak…istrinya yg kerja…ga malu apa??? Gila kali dia…"
Hmm…kalau kebetulan si pembicara entah dng cara bagaimana membaca blogku, aku mau bilang, kalau aku tidak bermaksud menyinggungnya secara pribadi, dan aku betul2 menghormati pendapatnya itu, walaupun aku mungkin punya pendapat yg berbeda utk kasus tersebut.
Dari pengupingan sekilas itu, aku mendapat sepotong info (sekali lagi maaf kalo ternyata salah, krn tidak ada klarifikasi sama sekali), kalau mereka sedang membicarakan teman mereka (laki2) yg tampaknya sekarang adalah seorang SAHF (Stay At Home Father), atau Ayah Yg Tinggal Dirumah. Dng kata lain, objek pembicaraan mereka adalah seorang laki2 yg sudah beristri, beranak pula, tapi tidak bekerja dan tinggal dirumah mungkin mengurus rumah dan anak, sementara istrinya yg bekerja, kemungkinan karena posisi dan penghasilan istrinya memang cukup tinggi pula.
Yg kuherankan adalah : mengapa kenyataan seperti itu dianggap GILA?
Memang bukan hal yg wajar di tipe masyarakat di Indonesia, ataupun bahkan Asia. Bahkan mungkin secara sejarah manusia pun bukan hal yg wajar, seorang lelaki (suami & ayah) tinggal dirumah, mengurusi hal2 domestik, sementara seorang perempuan (istri & ibu) yg keluar rumah mencari nafkah. Tapi apakah itu hal yg terlarang, atau bahkan gila sekalipun?
Persoalannya disini mungkin hanyalah cara pandang, dan wawasan. Mungkin pula karena kurangnya pemahaman alasan dibalik tindakan pasangan objek pembicaraan itu. Mungkin mereka punya alasan2 yg kuat, seperti misalnya :
- si suami mungkin dlm tahap mencari pekerjaan baru tp belum jg ketemu yg cocok.
- si suami sedang merintis usaha sendiri yg bukan kantoran tp masih dlm proses sehingga kepada teman pun jg tidak diceritakan
- penghasilan si istri memang jauh lebih tinggi sehingga kalaupun suami bekerja jg tidak signifikan, malah jadi tidak ada yg mengurus dan memperhatikan anak2, dan mereka pasangan yg sangat modern, berpikiran maju dan toleran sehingga tidak keberatan utk bertukan "peran"
Yah mungkin bisa saja sebenarnya memang si suami saja yg malas bekerja dan mengandalkan istrinya. Kemungkinan jelek selalu ada. Tapi coba lihat pada fakta itu sendiri dan nilai, bahwa pertukaran peran dlm rumah tangga, meskipun bukan hal yg wajar dan mungkin terasa aneh bagi sebagian orang, sesungguhnya bukanlah hal yg GILA. Malah dlm situasi dan kondisi tertentu, mungkin terasa SANGAT MASUK AKAL. Dan ini tidak berkaitan sama sekali dng isu2 feminisme dan emansipasi wanita, melainkan murni kepraktisan, logika, dan toleransi, serta kebesaran hati semata.
Mungkin pembicara sebagai sesama lelaki sedikit merasa "tersinggung" karena mungkin saja dia menganggap sewajarnya lelaki yg mencari nafkah dan bertanggung jawab atas keadaan finansial keluarganya, karena memang demikianlah prinsip dan pandangan yg ditanamkan kepada (mayoritas) laki2 didunia ini. Sehingga dia merasa temannya sudah "gila" dng mengambil alih peran domestik di rumah.
Tapi, aku, seorang perempuan, saat mendengar itu, justru merasa kagum, sangat kagum kepada si temannya yg jd objek pembicaraan itu, bahwa ternyata ada lelaki didunia ini, di Jakarta pula, yg bisa melakukan pertukaran peran spt ini.
Tentu saja dengan catatan kalau si temannya itu bukanlah lelaki pemalas lintah pengisap yg ternyata hanya menjadikan si istri sapi perah utk menghidupi keluarga.
Silakan berkomentar apa pendapat kalian, bagi yg sempat membaca post ini. Tapi aku akan no comment saja sehabis ini. Kalau kalian ingin berdiskusi lebih lanjut, email saja aku