Where Have All My Feminine Sides Gone?
November 22, 2007 by dryxanne
Kemaren, aku ke Senayan City, buat melihat2 sale Debenhams. Hasilnya, ga beli satupun. Entah ukuran item yg disukai tidak ada, harga yg tidak cocok, dll, dll. Tapi mungkin jg karena barang2 yg ada tidak begitu menarik, karena aku telat start bbrp hari.
Nah turun dr lantai 8 The Hall Senayan City, aku ke Foodcourt lalu makan. Selesai makan, saat menyusuri toko2, aku melihat 2 wanita yg berpenampilan menarik. Yg membuatku merenung adalah, penampilan salah satu wanita itu, dgn atasan hitam dan rok abu2 bermotif gelap, dng tas tangan hitam dan sepatu hitam. Terlihat serasi dan indah dipandang. Hey, aku bukan berubah menjadi lesbian. Hanya saja, melihat rok abu2 gelapnya, dan betapa femininnya penampilan wanita itu, aku jadi teringat 2 tahun yg lalu.
2 tahun lalu, Aku punya rok abu2 gelap juga (tentu dgn motif berbeda), yg kadang2 kupadankan dgn atasan hitam juga dan sandal hak tinggi hitam. Aku memakainya ke kantor, diselingi dengan rok hijau gelap kotak2 dan kemeja, atau rok putih garis2 hitam dng kemeja, atau rok krem dgn kemeja hitam. Aku terlihat feminin, tentu saja, apalagi panah timbanganku saat itu masih tetap dijalur lurus, belum ingin pindah ke jalur kanan. Beberapa teman kantor sempat memuji kalau aku terlihat manis, cantik, dng rok. Rambut panjang tergerai dijepit, dan anting2 gantung koleksiku menambah keserasian penampilanku.
Sudah mau muntah belum membaca kalimat2 diatas?
Ha ha.
Lalu kemana rok2 dan penampilan feminin itu?
Kurasa hilang ditelan waktu, kecuekanku, dan bertambahnya beratku. Otomatis rok2 itu tidak muat lagi, dan figur badanku jadi tidak cocok utk mengenakan rok lagi. Lagipula, pekerjaanku sekarang tidak mengharuskan aku keluar kantor bertemu customer, jadi buat apa tampil cantik sedemikian rupa? Rasanya menghabiskan waktu bangun lebih pagi utk berdandan, padahal dikantor toh tdk ada yg melirik.
Aneh ya?
Tidak dong…Seorang perempuan harusnya (dan sudah menjadi keistimewaannya) senang utk tampil menarik, memang. Tapi kadang2 usaha utk itu tidak sebanding dgn hasilnya, dan lama2 aku, dan mgkn juga wanita2 lainnya, kehilangan motivasi karenanya. Memang ada ungkapan yg menyatakan perempuan bodohlah yg berdandan hanya utk menarik laki2, tapi hey, akui sajalah, sebagian besar alasannya memang itu kan? Bahkan hewan juga begitu, di alamnya. So what makes a woman different then? Secara alami, manusia ingin bertahan hidup, dan mendapat pasangan, dan mempercantik diri utk menarik pasangan adalah caranya (ternyata susah juga menulis dlm bahasa Indonesia yg baik dan benar! Uh…).
Tapi rasanya, kok dangkal sekali kalau itu jadi alasan. Dan sebenarnya, bukan itu alasan aku tiba2 ingin sekali kembali berpenampilan spt 2 tahun lalu, rapi, feminin, cantik. Aku ingin kembali mengenakan rok2 cantik itu, memadankan aksesoris dng pakaianku, tas dengan sepatuku. Supaya aku terlihat menarik dimata orang.
Alasannya?
Entahlah.
Mungkin aku butuh "pemberitahuan" kalau aku ini seorang perempuan yg menarik, hanya saja sisi menarik dr diriku butuh dimunculkan dng cara tertentu. Mungkin aku butuh pandangan mengagumi dr org2 supaya rasa percaya diriku yg rendah bisa muncul lagi. Mungkin aku butuh pengakuan kalau aku ada, aku seorang perempuan yg butuh diperhatikan keberadaannya, dihargai kehadirannya. Dan utk itu semua, aku perlu utk tampil menarik, sehingga org tahu aku ADA.
Apa kedengaran menyedihkan?
Entahlah.
Mungkin juga aku cuma hanya ingin tampil cantik, supaya aku bisa menarik perhatian lelaki2 tampan diluar sana. Supaya aku punya lebih banyak "pilihan" dan karenanya bisa dengan bangga "memilih" satu dari antara sekian penggemar itu, dan mengatakan "Inilah yg terbaik untukku!", lalu dengan demikian hidupku akan tenang dan bahagia selamanya.
Atau mungkin aku hanya depresi saat ini karena memikirkan kemana hilangnya semua pesona femininku, saat aku berkaca. Memikirkan apakah aku memang tidak mempesona dari sononya, atau itu semua hilang karena pengabaianku saja dan menguapnya kesadaran diri utk selalu tampil menarik.
Lagipula, bukankah katanya kecantikan dalam lebih penting daripada kecantikan luar??
Yeah right…
Sayangnya, pria umumnya melihat dengan mata lebih dahulu. Dan tentu saja, kalau bisa dapat lebih, kenapa puas dgn yg kurang?
Mungkin anda pembaca2 perlu menonton juga film "Friends With Money" (Jennifer Aniston dan Joan Cusack), dan merenungkan salah satu tokoh temannya Jennifer Aniston disitu, yg menyatakan dia tiba2 kehilangan minat bahkan utk keramas, karena dia sudah lelah, sudah "tidak ingin tahu rasanya", sudah kehilangan excitement dari hidupnya yg seharusnya luar biasa. Kalau aku melihatnya, well, dia kehilangan minat utk keramas krn mungkin toh dia merasa sudah tua, dan tidak ada gunanya tampil menarik lagi.
Jadi, sebenarnya, kemanakah perginya semua sisi femininku dan semua "kecantikan"ku?
self-conciousness is the first step.
now, make a program for yourself, commit into it.
dub the program as something that sounds great or cool, like:
“Getting The Look That Kills!” Program.