Tentang Saman
December 10, 2007 by dryxanne
Ini adalah kumpulan perasaan2ku setelah membaca "Saman" karya Ayu Utami. Kurasa sangat personal, dan bakalan panjang, jadi tidak kuposting sebagai review buku. Dan harap dicatat ini semua persepsi pribadiku, benar atau salah, ini opiniku. Toh setiap org punya hak memiliki pendapat pribadi tentang berbagai hal, termasuk ttg pemahaman isi buku ini.
"Saman" memiliki sekumpulan tokoh yg masing2 memainkan peran dalam jalinan keseluruhan cerita. Walaupun judulnya adalah Saman, salah satu tokohnya, porsi cerita hidup si Saman tidak lantas serta merta menempati mayoritas halaman2 buku ini. Ada tokoh2 lain yg juga menarik utk disimak, dan Ayu Utami menuturkan dlm gaya "aku" pd masing2 tokoh saat kehidupan pribadi si tokoh menjadi topik utama dlm bab2 tertentu. Butuh beberapa saat sebelum terbiasa dgn gaya ini, juga utk mengenali tokoh mana yg sedang menjadi bahasan utama, sebelum aku menjadi "intoxicated" dan sangat menyukai gaya bertutur spt ini.
**********************************************************************************
Cok :
Tokoh yg tidak terlalu banyak dibahas, selain bahwa dia adalah seorang free-spirited, fearless female. Punya pacar berganti2, memanfaatkan lelaki utk berbagai tujuan. Membanggakan kenyataan bahwa diantara mereka berempat sahabat (Cok, Yasmin, Laila, Shakuntala), hanya dialah yg melepas keperawanan karena sadar dan suka…
Shakuntala :
Penari yg biseks. Tapi jujur mengakui semua aspek dirinya. Pemberontak. Tapi pemberontak yg jujur dan blak2an. Yg tidak munafik. Walaupun sedikit tidak perduli pada hal2 dan orang2 diluar lingkar tiga sahabat dekatnya. Yg tidak kumengerti hanyalah cerita tentang raksasa yg ia cintai, dan bagaimana ia mengambil dan mengirimkan keperawanannya kepada si raksasa melalui anjing. Perumpamaan yg terlalu dalam.
Yasmin :
Yasmin yg sempurna. Yasmin yg bahagia. Yasmin yg punya segalanya, dan dari luar tampak adalah yg paling ideal. Tapi, ternyata Yasmin adalah seorang penzinah. Tak sesuci yg dikira teman2nya, walaupun Cok tahu semua rahasia Yasmin. Saat membaca buku ini, aku terharu oleh kisah Yasmin dan Saman. Mungkin sederhana saja, mereka hanyalah org2 yg berselingkuh, itu saja. Tapi ada yg menyentuh dlm kisah mereka, kesederhanaan itulah. Seolah yg ingin disampaikan adalah, saat hatimu berkata ada satu rasa entah benar entah salah, tapi jalanilah apa yg kau rasa, biarlah urusan salah-benar dan dosa-suci menjadi urusanmu dng Tuhanmu di akhirat. Tak usah hiraukan apa kata manusia lain, toh mereka hanya manusia. Tapi, Yasmin bagaimanapun manusia, wanita, jatuh cinta tapi tetap menyimpan munafik. Entah alasan tidak ingin menyakiti hati suaminya, entah alasan keberadaan Saman harus merupakan rahasia sebab ia seorang buron, entah alasan kerahasiaan hubungan mereka justru menambah gairah Yasmin, entahlah. Yg penting hubungan mereka harus dirahasiakan. Dan tetap sederhana. Karena itu tidak ada kemungkinan konflik muncul dng mereka kepergok, atau Yasmin hamil, atau bahkan Laila tahu (karena Laila pernah jatuh cinta dng Saman).
Laila :
Laila seorang perawan. Di usia 30, ia masih perawan. Mungkin secara teknis. Karena jelas ia bukanlah perawan dlm hati. Atau perawan dlm pengertian ia tak pernah melakukan hal2 yg mendekati kegiatan seks dlm pengertian yg bebas. Tidak, Laila mungkin seorang perawan secara fisik, tapi bukan perawan dlm artian diluar fisik. Laila, begitu tertekan dng keperawanannya, batasan fisik yg menyebabkan ia tidak bisa memiliki lelaki yg ia cintai semaksimal mungkin. Tapi saat bersamaan, Laila begitu takut melepaskan keperawanannya. Seperti menggenggam buah simalakama.
Saman :
Dahulu namanya bukan Saman. Ia adalah Wisanggeni, pastur Athanasius Wisanggeni. Ia pastur Katolik yg saat ditahbiskan, sungguh2 meyakini ia akan menjalani tugas mulia dlm hidupnya, menggembalakan manusia2 yg percaya Kristus. Juga meyakini ia akan hidup selibat selamanya. Yg terjadi kemudian, mungkin adalah hal2 yg tidak akan pernah dibayangkan dlm mimpi2 terliarnya sekalipun. Saat ia kehilangan semua yg diyakininya, bahkan tak mampu berdoa lagi. Saat ia melepaskan jubah pasturnya, saat ia merelakan tubuhnya yg dahulu ia ikat dng sumpah selibat dimiliki Yasmin luar dalam, saat ia merasakan keinginan hati utk bersama org2 tertindas yg mungkin lebih membutuhkan dirinya daripada umat di parokinya. Wisanggeni mati saat itu. Saman lahir kemudian. Tapi selalu ia rasakan dlm hatinya : Salib mereka bukanlah salibnya. Ia tidak akan pernah bisa memikul salib org lain, sama seperti org lain tidak akan pernah bisa memikul salibnya…
********************************************************************
Aku belum menjadi seorang Cok. Mungkin tidak akan pernah menjadi seorang Cok. Cok terlalu berani, dan terlalu bebas. Cok seperti Angelina Jolie dalam hal keberanian dan pilihan hidup. Aku mengagumi Angelina Jolie, dan berharap aku bisa memiliki sepersekian saja dari keteguhannya menjalani berbagai pilihan yg ia buat dalam hidupnya.
Dan jelas aku tidak bisa menjadi dan bukanlah seorang Shakuntala, karena aku bukan penari, dan aku sangat mencintai keperempuananku, walaupun aku kadang ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi lelaki. Tapi Shakuntala juga seorang pemberani yg mengambil keputusan bagaimana ia ingin menjalani hidupnya. Aku seorang pengecut karena selama ini belum pernah aku mengambil keputusan besar yg sesuai isi hatiku. Aku banyak pertimbangan, dan sering terlalu mempertimbangkan perasaan dan kebahagiaan org lain ketimbang perasaan dan kebahagiaanku sendiri. Aku seorang munafik yg mengira diri martir. Shakuntala, kalau ia seorang karakter hidup, bakal tertawa dingin atas kebodohan dan kemunafikanku.
Atau barangkali aku seorang Yasmin? Rasanya tidak juga. Aku belum menikah. Dan aku ingin menikah dgn cinta, sehingga kuharapkan cinta itu bisa menghalangi aku dari keinginan berselingkuh dan jatuh cinta lagi dng org lain yg bukan suamiku. Tapi tidakkah Yasmin juga cinta Lukas pada saat ia menikahi Lukas? Dan toh ia berselingkuh juga dng Saman. Dan ia cinta Saman. Kalau boleh jujur, mungkin Samanlah yg ia inginkan, bukan Lukas. Tapi apakah tidak mungkin Yasmin jatuh cinta pada Saman, karena Saman sekarang adalah Saman, bukan Wisanggeni lagi? Yasmin tidak jatuh cinta pada saat ia masih Wisanggeni, entah karena Wisanggeni seorang pastur, atau ia belum bertransformasi menjadi seorang Saman yg membuat Yasmin jatuh hati. Tapi Yasmin cinta Saman, dan ia relakan dirinya berdosa secara moral agama, dgn mengkhianati janji pernikahannya, dengan bercinta dgn Saman, yg ironisnya adalah bekas pastur. Well, itu yg kusebut, kalau mau berdosa, sekalian saja yg berat, bukan? Walaupun begitu, tetap saja aku terharu oleh cinta Yasmin dan Saman. Rasanya, susah menyebut perbuatan mereka dosa, dan rasanya susah utk tidak tersentuh oleh cinta mereka, entah utk alasan apa aku juga tidak bisa menjelaskan…
Laila. Kali ini, aku jelas seorang Laila. Ya, aku masih perawan. Tidak, aku belum 30 tahun, tapi ada kemungkinan besar aku akan mencapai umur 30 tahun dlm kondisi masih perawan. Tidak, ini bukan undangan utk lelaki datang melamarku atau memperkosaku. Ya, aku begitu pesimis sekaligus optimis. Pesimis aku akan menjadi tidak perawan sebelum umur 30, Optimis aku mungkin bertahan jadi perawan sampai umur 30. Dan apakah itu kebanggaan? Karena seperti Laila dibingungkan oleh keperawanannya, seperti Laila dlm bayang keraguan utk mempertahankan keperawanannya, mungkin keraguan yg sama menghinggapi aku.
Tapi kau tahu? Ibu Shakuntala bilang, perempuan itu ibarat porselin. Kau perempuan, boleh berwarna warni, tapi tidak boleh retak. Karena sekali retak, kau jadi sampah. Kau tahu? Ibuku berkata persis sama. Seperti ibu Shakuntala. Tapi aku bukan Shakuntala kan? Apakah itu artinya aku boleh mengingkari dan membantah dan melakukan kebalikan kata2 ibuku, dan ibu Shakuntala? Aku boleh meretakkan diriku, atau membiarkan seorang lelaki meretakkan aku, walaupun aku tak tahu akankah dia atau ada lelaki lain yg tetap membawaku pulang, piring porselin yg retak? Mungkin dia akan membawaku pulang, tapi lalu membuangku ke tong sampah, karena piring porselin yg retak tak ada gunanya. Kalau kau makan dari porselin retak, nanti kau termakan pecahan beling. Kalau kau pajang, kau akan ditertawakan : porselin retak kok dipajang? Akhirnya, mungkin lebih baik dibuang saja. Dan tidak bisa dibuang sembarangan. Tenggelamkan saja di sungai atau kali berlumpur, biar tenggelam sampai ke dasar, lalu lumpur akan mengendap dan menimbunnya dlm dasar sungai yg dalam, terlupakan. Karena kalau tidak, satu hari porselin retak itu akan ditemukan lagi, dan hanya dilihat lalu dibuang lagi sambil berkata : ah porselin retak, kubawa pulang pun tak ada gunanya…
Tapi ada juga org seperti Sihar. Ia menghargai keperawanan Laila, karenanya tidak mau merusaknya. Tapi lama kelamaan, cinta Sihar terasa palsu. Apakah karena ia tidak mau merusak Laila, maka ia menjauhi Laila? Atau karena ia tidak mau dituduh merusak Laila, andai Laila bukan seorang perawan, tidakkah Sihar mau meniduri Laila? Sebab dgn demikian ia bisa membenarkan dirinya sendiri : toh bukan aku yg meretakkan porselin Laila pertama kali…
Tapi Saman bukan Sihar. Saman tidak perduli pada keperawanan. Pertama karena ia toh dulu selibat, peduli apa dia pada perempuan perawan atau bukan, ia pikir ia tak akan pernah menikmatinya. Lalu kemudian toh ia tidur dng Yasmin yg jelas bukan perawan. Mungkin memang bagi Saman, keperawanan bukanlah konsep penting, konsep prinsip. Banyak hal yg lebih penting dari sekedar keperawanan. Perawan tidaknya seorang perempuan tidak lantas menjadikan ia lebih baik, lebih tidak berdosa kebanding perempuan lain yg perawan. Tapi tidak semua lelaki seperti Saman, bukan? Saman yg tak lagi bisa berdoa, menatap ke langit karena ia mendapati dirinya kehilangan kepercayaan bahwa ada sesuatu yg agung di atas sana. Karena mungkin Tuhan tidak ada disana saat ia hampir mati, saat Upi mati terbakar oleh kebencian dan keserakahan sesamanya, Saman yakin Tuhan tidak hadir disana…
Aku, belum menjadi Saman. Aku, entah karena takut berdosa, entah karena percaya, entah karena iman yg tak jelas pula kutujukan kepada Tuhan yg mana, meyakini Tuhanku ada. Tuhan yg mana? Itulah pertanyaan yg tak bisa kujawab. Aku yakin Tuhanku selalu ada, karena itulah sampai sekarang aku bisa hidup waras, karena aku tahu, Tuhanku telah menarikku dari tepi jurang gelap batas kewarasan dan kegilaan, sekian tahun yg lalu. Tuhanku mengasihi aku, walaupun aku kerap melupakan keberadaan dan arti hadir-Nya. Tuhanku belum membiarkan aku mengalami kepahitan, kegilaan, kekejaman seperti yg dialami Saman. Tuhanku Tuhan yg baik, aku yakini ini, karena dia tidak diam saat aku berdoa sepenuh hati padanya, walaupun saat aku memohon sepenuh hati padanya terbilang jarang, karena aku manusia angkuh tak tahu diri, karena aku seringkali melupakan, tanpa Tuhanku, aku sekarang sudah di neraka.
Tapi akankah Tuhanku masih memaafkan dan mengampuniku, kalau aku melakukan hal yg aku tahu Dia tak berkenan? Akankah Tuhanku memelukku dan masih mengasihiku, kalau aku tidak lagi punya tenaga utk berjalan di jalan-Nya? Akankah Tuhanku masih mencintaiku, kalau aku mendosakan diriku, lalu menantangnya utk memaafkanku, karena hanya Tuhanlah yg bisa memaafkan? Atau akankah Tuhanku murka padaku, karena aku seorang manusia rendah yg tak tahu dicintai?
Aku yakin Saman tahu yg dia lakukan adalah dosa, tapi Saman tak lagi peduli. Bercinta tanpa ikatan pernikahan, dosakah, tapi setidaknya Saman tidak membunuh dan Saman tidak memperkosa, dan Saman tidak menculik dan Saman tidak membakar. Dosa2 besar yg mestinya lebih pantas pelakunya dimasukkan neraka, dibanding dosa Saman yg hanya meniduri Yasmin istri orang. Lagipula, seperti kata Yasmin, mereka melakukannya karena cinta.
Tapi cinta apa pula yg menurutkan nafsu?
Aku bukan Saman, bukan Yasmin, mungkin Laila, bukan Cok, bukan Shakuntala. Tapi dalam diri mereka, kutemukan berbagai potong sifat dan kerumitan karakter yg membentuk diriku sekarang.
Dan aku tahu, Tuhanku sedang mengawasiku sekarang.
Demikian pula Setan yg sedang menunggu kejatuhanku…