Dunia Modern Masa Kini - Story of Breadtalk
February 3, 2008 by dryxanne
Sebenarnya sih, aku ga tau mo ngasih judul apa k post yg kali ini. Pgn kasi judul yg keren, tp ga ketemu kata2 yg cocok. Jadilah aku sok mengkerenkan postku dng judul diatas. Padahal sih sebenarnya aku cuma mo cerita soal Breadtalk.
Tentunya pada tau dong, Breadtalk. Ingat dong bbrp taon yg lalu pas Breadtalk baru muncul dng roti abon sapi pedasnya itu, Floss dan Firefloss, antrian panjang dimana2 didepan gerai Breadtalk yg kala itu baru ada beberapa di mall2 tertentu saja. Ga kaya sekarang, kaya jamur dimusim hujan, atau kaya kecoak muncul klo lg ada semprotan DB…(hiii..kenapa sih perumpamaannya musti KECOA???)
Anyway…
Rasanya munculnya Breadtalk memulai satu era baru dlm dunia masyarakat "modern" di Jakarta. Mengkonsumsi Breadtalk spt menaikkan gengsi, sama seperti kalau menenteng tas Louis Vuitton yg harganya belasan dan puluhan juta rupiah ke mall. Setelah Breadtalk lalu muncullah J.Co, Krispy Kreme, I-Crave, dll. Kemudian si Dunkin Donuts juga mulai mempercantik diri, takut kalah bersaing.
Padahal yg dijual Breadtalk toh cuma roti ya? Memang sih rotinya enak (walaupun sekarang aku lebih suka Crystal Jade Bakery, ada roti tertentu yg lebih enak), tapi kalau dipikir lagi, rasanya sebagian org membeli cuma utk gengsi, biar ga dibilang makan roti tawar biasa yg standar itu, yg dulu di jual di Bakeri "Prancis" di kota Jambi. Yg toh enak2 aja menurutku, yg penting kan isinya, ceres coklat dng mentega Blueband tebal, minumnya Milo panas, srruppppp….enak….
Eh melenceng lagi….
Tapi memang aku mau membahas soal si Roti Tawar itu. Tau kan kalo di Breadtalk, ato gerai2 roti lain yg "setingkat" ato sejenis, mereka tidak lagi menjual roti tawar yg masih ada lapisan luar coklat terpanggang itu? Selama ini tak pernah terpikirkan kemana lapisan itu dibuang. Kalo buatku, aku sih makan aja, walaupun karena rasanya memang agak tebal biasanya klo kubuat sandwich ato roti isi, aku suka makan pinggir2nya dulu, biasalah….berakit2 ke hulu dulu, setelah pinggir yg tidak enak kan aku bisa menikmati bagian sisanya yg nyummmy…
Nah kemaren, di Breadtalk pas aku lagi mengantri bayar, aku perhatikan ada tukang rotinya yg lagi motong2in sisi2 roti yg coklat itu. Bayangin bentuk roti tawar yg spt balok, berarti ada 6 sisi yg musti diiris lapisan luarnya (bagi yg lupa bangun ruang Balok , silakan Google dulu hehehe….). Berarti, utk setiap blok roti tawar yg kemudian diiris2 menjadi sekitar 10 lembar, ada 6 lembar sisi warna coklat yg "harus dibuang". Padahal sebenarnya itu masi layak dikonsumsi kan?
Lapisan2 coklat itu kemudian dibuang, atau tepatnya ditumpukkan, kedalam satu wadah lebar spt nampan, yg diletakkan dilantai disamping si tukang potong. Sempat ku pikirkan, dikemanakan ya irisan2 coklat itu? Lalu ada kecoak melintas di lantai dibawah nampan itu, seketika aku merasa jijik, dan berpikir, kalaupun mau dikonsumsi lagi, katakanlah diberikan kepada org2 jalanan yg kelaparan, rasanya penanganannya harus lebih higienis lagi.
Dan tau ga apa yg terjadi pd detik aku berpikir itu?
Seorang staf lain melintas, dia berjalan ke arah kasir didepanku, jadi dia harus melintasi nampan roti dilantai itu. Tapi, bukannya dia melangkahi atau menggeser nampan roti itu spy dia bisa lewat, dia malah MENGINJAK TUMPUKAN IRISAN KULIT LUAR ROTI ITU.
Entah kenapa, pas ngeliat itu rasanya pengen kupukul kepala si staf itu!! Rasanya pengen kutarik kerah bajunya lalu kuteriakkan ke kupingnya : TAU GA SIH, DILUAR SANA BANYAK ORG KELAPARAN GA DAPET MAKAN 1X SEHARIPUN, DAN KAU BEGITU PONGAHNYA MENGINJAK KULIT2 ROTI ITU??? MEMANGNYA BERAPA SIH GAJIMU SEBULAN SAMPAI KAU MUSTI BEGITU ASSHOLE SEOLAH2 ITU BUKAN SESUATU YG MASIH PANTAS DIKONSUMSI???
DASAR BRENGSEK….!!!
Walaupun memang aku tetap munafik, aku tetap membeli roti yg memang sudah kuantri didpn kasir, walaupun aku tidak lantas menyarankan kalian utk memboikot Breadtalk, tapi aku tetap saja marah dan kesal. Tentu saja aku blg pd diri sndiri, itu hanya kelakuan 1 org saja, belum tentu yg lain akan spt itu, menginjak roti2 itu. Tapi rasanya si staf itu "ngeh" kalo aku melotot ke dia, karena setelah itu nampan tersebut buru2 disingkirkan ke tempat lain yg tidak terlihat olehku.
Terpikir olehku, kenapa sih Breadtalk tidak berinisiatif utk menyumbangkan kulit2 roti itu utk pengemis2 dijalan? Tinggal dikasi mentega atau selai sebotol aja lalu dioleskan kemudian dikemas simple, lalu dibagikan? Tidakkah dng begitu, selain keuntungan komersial, Breadtalk jg mendapat keuntungan nama baik? Mungkin itu udah dijalankan, ya aku jg ga tau, tp rasanya kalo melihat kelakuan stafnya spt itu, GA MUNGKIN DEH. Atau lebih brengsek lagi, kalo ternyata mereka memang lalu kemudian membagi2kan kulit roti itu ke kaum papa dluar, tp sebelumnya entah sehigienis apa kulit roti itu diperlakukan. Klo ternyata abis keinjak itu trus tetep dbagikan, MEMANG BRENGSEK LAH ORG2 ITU….!!!
Memang sih, aku bukan org yg dermawan sekali, yg membelikan nasi bungkus lalu dibagi2kan ke orang2 jalanan. Jujur aja aku tidak sedermawan itu. Jujur saja aku kdg2 pesimis sekali melihat org2 djalanan itu, kenapa mereka tidak berusaha mencari sesuatu yg bisa dkerjakan? Kalau niat pasti bisa kan? Tapi spt diskusi aku dng seorang teman dkantor, masalahnya niat baik org sering susah dipercaya, hari giniiii??? Coba, kalau ada ibu2 bawa bayi kedepan rumahmu, minta pekerjaan sbg pembantu, mau ga kamu langsung terima? Mungkin malah kamu usir dng alasan, hari gini pembantu lwt yayasan aja masi nyolong, apalagi yg dtg dr jalan ga jelas gini?
Tapi, biarpun aku bukan org dermawan, biarpun aku tidak menyantuni org2 papa, setidaknya aku mencoba tidak membuang2 sesuatu yg masi bisa dimanfaatkan, atau tidak menyia2kan makanan terbuang percuma. Makanya badanku tambah subur, karena aku selalu menghabiskan makanan yg kupesan. Dlm 100 kasus, mungkin 1 atau 2 kali aku pernah tidak habis makannya dan itu pasti karena aku lg tidak enak badan. Itupun aku guilty feeling sekali pas harus membuangnya. Karena dari kecil Mamaku selalu mengajarkan utk menghabiskan makanan dipiring, dng mengingatkan utk bersyukur aku masih bisa dapat makan, krn banyak org dluar sana ga bisa makan.
Tapi nampaknya org2 di Breadtalk, atau manajemennya, TIDAK PUNYA FILOSOFI HIDUP SPT ITU…!!!
let’s be cynical:
that’s the culture of the franchisee that brings you the no-talent-what-so-ever-worthless- that-fooled-you-gullible-assholes: roger danuarta!
yeah their pastry may tasty but to me they all yucky
and another question:
you still stand on the line and buy their product?
.
.
.
hmmm….
.
.
.
if i were you, i’d leave.
1, kan ud kublg aku emg munafik jd aku tetep beli
2, aku uda terlanjur antri
3, anggep aja aku objektif, toh rasa rotinya emg enak,setidaknya buatku
4, Roger Danuarta adalah anaknya Jhonny Danuarta, bukan Johny Andrean si pemilik franchise Breadtalk n jg J.Co…so what’s the point ya?
hihihihi… kalo gue mungkin iseng akan berkomentar keras-kesar ke kasirnya ttg kelakuan staffnya itu. walaupun mungkin nggak ngaruh, tapi setidaknya orang2 di antrian belakang dan pegawain yg lain akan denger dan breadtalk itu cukup malu. hehehehe =)